Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa ada orang seperti dia ? mencintai seseorang yang bahkan tidak mengetahui bahwa dirinya ada, maksudku, orang yang ia cintai tidak mengetahui kalau orang yang mencintainya benar-benar ada, entahlah bagaimana mengatakannya bila kau tak mengerti. Cobalah menjadi seorang fangirl maka kau akan mengerti, atau menjadi seseorang yang mencintai seorang fangirl. Itulah aku.
Dia orangnya, sedang tersenyum-senyum di bangku taman sambil memasang headphonenya. Aku hanya ingin memastikan apa yang ia dengarkan sampai ia terlihat sangat bahagia, walaupun aku sudah sangat tahu.
“sedang apa ?” Tanyaku menghampiri.
Dia terlihat bingung, pasti volume music yang ia dengarkan terlalu keras. Ia mendongakkan wajahnya, memandang ke arahku yang masih berdiri dihadapannya. Kau tahu, saat ia mendongakkan wajahnya, adalah hal terindah yang aku lihat hari ini. Mata kecoklatannya terkena pantulan sinar matahari, rambut coklat lembutnya dibelai angin sepoi-sepoi. Kelopak matanya sesekali tertutup untuk menghalangi silaunya sinar matahari.
“oppa..” kataya sambil tersenyum, lalu menepuk-nepuk bangku taman itu, menyuruhku duduk disampingnya.
Aku segera duduk disampingnya, ingin sekali rasanya menyenderkan kepalaku yang pusing dipundaknya, atau setidaknya memegang tangan lembutnya. Tapi aku hanya duduk disana, awalnya kami berdempetan, namun akhirnya aku membuat jarak, kira-kira satu centi darinya, ah tidak, dua centi, mungkin tiga.. atau empat ..
“wae-yo ?? pfhh hehe kau aneh sekali ..”
“a. a- a-niyo. Hehe” kataku canggung. Semoga saja wajahku tidak secangung yang aku bayangkan.
“apa kau sudah lama menunggu?” tanyaku masih canggung, dia masih saja sibuk dengan music playernya.
Dia menggeleng keras, seperti biasa.
“apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” tanyanya. Hari ini aku memintanya untuk bertemu, karena ada hal penting yang ingin ku katakan.
“sebenarnya aku …” aku sangat gugup, semua kata-kata yang ku rangkai semalaman tak ingin keluar dari mulutku, hatiku berdetak sangat kencang sampai hampir meledak..”aku ….” Lanjutku.
“yaa. Hyung…” sapa beberapa juniorku yang lewat. Seperti bukan sapaan, karena mereka berteriak. Ugh, aku hampir mati karena kaget, baru saja aku akan mengatakan hal terpenting, inti dari semua yang ku rasakan. Taman ini sekarang mulai ramai, sudah waktunya mahasiswa pulang kuliah, pantas saja.
“kita bicara di tempat lain”. Kataku menawarkan. Dia terlihat gugup juga. Apa mungkin hanya perasaanku hingga ia terlihat segugup itu, entahlah. Dia mengangguk pelan tidak seperti biasanya.
Kami berjalan dari taman, entah akan kemana arah kakiku melangkah, ia hanya mengikuti, masih dengan music player yang tak pernah ia lepas.
“WHOAAAA~ ini ! kalung ini ! opppppaaaaa~~” ia berteriak-teriak di depan sebuah toko aksesoris, kami sedang berjalan di lorong-lorong Dongdaemun.
“ada apa ?”
“kalung ini, aku pernah melihat Onew memakainya ! wahh, sangat beruntung ! aku ingin sekali .. “ dan blablablabla ! dia tak pernah berhenti ketika memulai membicarakan orang itu. Maksudku Onew, orang yang benar-benar ia sukai. Seorang artis yang, lumayan terkenal, tidak begitu ganteng, aku yakin aku jauh lebih ganteng darinya. Tapi yang aku tau, ia tergila-gila pada suara Onew dan senyumannya.
“JIYEON-AH !!!!!!” tiba-tiba jiyeon terdiam. Ia terkejut. Dan aku terkejut. Tidak biasanya aku membentaknya.
Aku hanya bisa menelan ludahku, gugup sekali rasanya. Gugup bercampur kesal, lalu aku melempar kalung yang sedari tadi Jiyeon pegang. Aku benar-benar sudah sangat muak dengan apapun itu tentang Onew! 2 tahun! Aku menyukainya sudah 2 tahun. Dan ia terus saja mengatakan hal-hal mengenai Onew itu. Maksudku, sudahlah, menyerahlah, pergilah mencari seseorang yang benar-benar ada, orang yang benar benar melihat nya, sehingga saat aku cemburu aku bisa melihat dan mendatangi orang itu secara langsung. Mengapa harus Onew, bahkan bocah bernama Onew itu juga tak akan mengetahui sedikitpun besarnya rasa cemburuku padanya. Aku berjalan menjauhi keramaian. Jiyeon masih disana, hampir menangis.
“oppaaaa!! Kembalilah minta maaf pada penjaga toko!” katanya. Ugh, penjaga toko!! Aku benar-benar sedang marah padamu Jiyeon!
“junhyung-ahh!!!” teriaknya. Aku terus berjalan menjauh menuju halte bus. Ia bahkan tidak memanggilku oppa, apakah semarah itu sampai ia meneriakkan namaku.
✿✿✿
Sejak kejadian sore itu di Dongdaemun, Jiyeon tak pernah datang ke rumahku untuk mengantar kimchi, atau ketika aku mencarinya di sekolah, ia selalu tidak ada. Aku hanya menanyakan kabarnya pada Jisun, adiknya, katanya Jiyeon sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir. Aiiiisssssssssssshhh, aku benar-benar merindukannya. Aku merasa sangat bersalah karena masalah kalung itu, mungkin aku sudah keterlaluan.
“hyung” kata Jisun suatu sore saat mengantar kimchi. Keluargaku sudah berlangganan kimchi sangat lama pada keluarga Jiyeon.
“eh? Ada apa?” tanyaku.
“sebenarnya kalian ada masalah apa?”
“siapa?”
“kau. Jiyeon noona. Aissshhh aku benar-benar tak mengerti. Gara-gara kalian bertengkar, aku jadi selalu mengantarkan kimchi setiap sore ke kompleks ini! Padahal aku ingin pergi main bersama teman-temanku!” katanya kesal. Wajahnya saat kesal mengingatkan aku pada Jiyeon.
Aku hanya menepuk pundaknya. “heh bocah! Kakakmu itu harus belajar supaya lulus sekolah dan ujian universitas! Arassoooo!!”
“tetap saja, kalian orang dewasa menyebalkan” katanya sambil berlari ke pintu depan, lalu berlari pergi.
Ugh! Tak tahan! Ingin melihatnya! Ingin mengatakan segalanya. Aku mengambil jaketku, lalu mengendarai motorku. Aku tahu, tujuanku adalah rumah Jiyeon, namun sedari tadi aku hanya memutar-mutar jalan. Aku berhenti di dekat pom bensin karena motorku sangat boros. Dan.. aku melihatnya! Onew! Bagaimana mungkin aku tidak kenal, mata sipit itu yang selalu Jiyeon perlihatkan padaku, atau rambut nya yang agak awut-awutan, dan yang paling ku kenali adalah senyuman yang ia berikan pada semua penggemar yang berteriak-teriak didekatnya dan juga kedua gigi kelincinya yang sesekali memperlihatkan diri. Mungkin Jiyeon akan berada disana, mengejar-ngejar Onew dan.. entahlah, sangat sakit hatiku bila memikirkannya.
“Onew-ssi!” teriakku. Semua mata tertuju padaku. Maksudku, tidak semuanya, hanya hampir semua orang di pom bensin tersebut kecuali pekerja yang sedang sibuk mengisi bahan bakar ke mobil-mobil yang mengantri. Aku tak tahu apa yang sedang ku lakukan, aku tak mengerti. Aku menghampirinya dalam keramaian.
“n-ne ? “ Tanya onew bingung. Para fangirls disekelilingnya berbisik-bisik tak karuan.
Aku menunduk, entah apa yang ku lakukan, pasti terlihat sangat bodoh.
“aku.. a-a..aku.. membencimu !” kataku terbata-bata. Wajah Onew benar-benar merah, atau hanya telinganya yang berubah menjadi pink. Aku tak melihat jelas, tapi pasti ia merasa marah.
“aku tahu..” katanya mencoba terlihat cool. Dasar bocah ini, Apanya yang ia tahu! Huh!
“kau, tak tahu .. bagaimana perasaanku ..” kataku hampir berteriak.
Bisikan-bisikan para fangirls itu semakin jelas. “ahh dia fanboy..” “tidak mungkin” “tidak boleh-tidak boleh..” “apa mungkin dia homo” semakin banyak yang mereka bisikkan, semakin panas rasanya kupingku.
“DIAM!!!” teriakku. Dan mereka pun menutup mulutnya masing-masing. Aku berlari menerobos kerumunan dan mencari motorku, tapi. Bugh! Tak sengaja menabraknya. Kami terjatuh diatas aspal dengan posisi yang tidak enak dilihat. Badanku yang lebih besar darinya, menindihnya, sikutnya terlihat berdarah. Wajah kami benar-benar sangat dekat, bahkan aku tak pernah menatap orang yang kusukai, maksud ku, Jiyeon, sedekat wajahku dan wajah Onew sekarang. Kau bisa bayangkan reaksi fangirls disekelilingku dan Onew, maksudku FANGIRLS, WOW. Mereka berteriak-teriak seperti orang gila, memotret disana sini, mencoba memukuli ku dan menjauhkan tubuhku dari Onew. Tapi saat mata sipitnya melihat ke arahku, entahlah perasaan apa yang ku rasakan. Matanya coklat dan berkilau, bila kau bayangkan biji buah lengkeng, maka seperti itulah bola mata Onew terlihat. Keras, tapi indah dan ada kesan manis di dalamnya. Pikiranku mulai tak beres.ahhh andwae andwae!!
✿✿✿
Siang itu Jiyeon duduk manis di bangku taman dekat kampusku, seperti saat-saat kami pulang bersama dulu. Dia terlihat sangat kesal, sesekali melihat-lihat ke handphonenya, dan seperti men-suffle music playernya berkali-kali. Aku memperhatikannya dari jauh, tak berani menghampirinya, apalagi karena peristiwa lusa lalu saat aku menubruk Onew.
Beberapa kali Jiyeon mengepalkan tangannya, memeluk tubuhnya sendiri. Beberapa kepal asap-asap putih berhamburan dari mulutnya. Musim dingin kali ini, memang benar-benar dingin. Aku tak tahan melihatnya kedinginan tanpa jaket sedikitpun.
“OPPA!” teriaknya seketika saat aku menunjukkan batang hidungku.
Aku menunduk. “mian …”
“ugh! Aku benar-benar .. membencimu!! Aku kira kau akan mendukungku, tapi kau pergi ke hadapan Onew, dan mengatakan kau membencinya, dan kemudian menabraknya, dan membuat banyak gossip miring tentangnya.. apalagi yang lebih buruk .. katakan semuanya …” katanya hampir berteriak.
Aku hampir senang, kami saling pandang di bangku taman ini, dan orang-orang yang lewat disekitar taman mengira kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Hal baiknya adalah, mereka mengira, aku dan Jiyeon, adalah kekasih.. ayolah .. aku, Junhyung, dan orang yang mereka kira kekasihku, Jiyeon, sedang bertengkar karena suatu hal yang wajar dipertengkarkan sepasang kekasih. Aku akan mempunyai mimpi yang indah malam ini. Tapi hal buruknya, kami bukan kekasih dan kami sedang membicarakan seseorang yang dicintai orang yang aku inginkan menjadi kekasihku, Jiyeon, tapi aku, Junhyung, sangat membenci orang yang aku cintai cintai. Kau pasti bingung. Tapi, pasti mimpi indahku akan sangat singkat.
“katakan …” teriaknya lagi, kesal seperti seorang preman yang sedang memalak anak SD.
“maaf.. aku mencintaimu, apa kau puas ??” tanyaku tepat dihadapan wajahnya. Meledak! Hatiku benar-benar meledak. Aku tahu ini saat wajahku hampir menubruk wajahnya, maksudku, aku sengaja mendekatkan wajahku, tapi jaraknya hanya tinggal 0.000000 centi lagi. Aku tak peduli orang-orang yang berjalan di sekitar taman memperhatikan kami. Cukup dekat untuk memastikan kata-kata bahwa aku mencintainya tidak sia-sia aku lontarkan.
“op..” katanya, bola matanya hampir keluar ketika ia mengatakan ‘op’ itu, ia hampir mengatakan oppa, tapi kau tahu apa yang terjadi? Ketika bibirnya bergerak membentuk lingkaran O, Jarak 0.000000 centi itu menjadi … kau bisa bayangkan sendiri. Aku sangat senang sampai hampir memegang pundaknya, kemudian, melakukannya seperti di film-film, dan diam disana dibawah salju yang mulai turun. Tapi ia langsung menundukkan kepalanya, aku hanya mencium rambutnya, hampir saja bibirku jontor karna terbentur tulang tengkoraknya yang keras.
“kau .. ja-ha-t” katanya terbata-bata dan menangis, ia masih memandang tanah, dan aku masih mencium wangi rambutnya. Masih merasakan euphoria yang tadi ku rasakan.
“Jiyeon-ah, kau tahu, aku .. sudah sangat lama menyukaimu ..” kataku, lalu memegangi tangannya yang ternyata sangat dingin. Entah sudah berapa lama dia berada di bangku taman itu, menungguku.
“kau jangan pernah mencariku lagi, mengirimku sms, menanyakan kabarku pada Jisun, aku tak mau mengenalmu lagi.” Katanya lalu melepaskan genggaman tanganku, melepaskan gelang merah pemberianku. Gelang merah saat tahun baru, kami melihat kembang api bersama dan makan ubi panggang bersama. Kenangan itu… tiba-tiba air mataku menetes .
Jiyeon sudah pergi, tak ingin mengenalku. Rasanya ingin bunuh diri seperti kebanyakan artis korea yang patah hati, tapi aku bukan artis dan tak akan ada yang peduli bila aku mati. Akhirnya aku hanya pergi mencari soju, melampiaskan semua kesedihan, kemalangan, dan semua rasa yang ada di hati ini. Aku bahkan mengasihani diriku sendiri.
✿✿✿
Musim semi pun tiba, sudah tiga bulan aku tak mengetahui kabar apapun tentang Jiyeon, apalagi Onew, tidak sudi rasanya. Ya, aku memang pengecut. Aku tak mendatangi Jiyeon, menanyakan kabarnya, atau bahkan sesekali menonton infotainment dan melihat kabar Onew. Untuk tiga bulan belakangan ini, aku merasa tinggal di Pluto. Dunia luar sana, sangat asing bagiku. Sampai suatu hari, aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri. Jiyeon, dan Onew. Maksudku, seseorang yang aku cintai sedang duduk sambil mengobrol dan minum coffe dengan seseorang yang aku benci.
Aku berdiri membelakangi mereka, untung sekali mereka duduk di dekat cashier, sehingga cukup dekat sampai aku mendengar gelak tawa mereka.
“woaa.. oppa, dae~bak ! “ terdengar suara Jiyeon yang sangat aku rindukan terkagum-kagum dengan apapun yang sedang Onew ceritakan. Dan aku tak peduli sehebat apapun cerita Onew. Aku hanya berfikir, hanya aku, hanya aku yang kasihan, hanya aku yang bersedih disini, merindukannya, seperti hidup namun tak bernyawa, selama tiga bulan ini.
“bukan kah kembalian mu sudah, tuan ?” Tanya sang penjaga cashier. Aku hanya memberi tanda agar ia diam.
“tapi, dibelakangmu masih banyak antrian.” Katanya lagi.
Aku menolehkan wajahku ke belakang, tepat dibelakang ku seorang ajushi dengan muka sangar memelototiku, dan dibelakang ajushi itu ada seorang halmoni yang sudah renta mengantri. Kalau bukan karena nenek itu, aku tidak akan minggir dari tempat cashier ini. Bukan, bukan karena ajushi yang menyeramkan ini, ayolah, aku tidak takut, tapi tattoo ular dilengannya cukup membuat kakiku sedikit gemetar. Hanya sedikit.
Aku berjalan gontai keluar café seperti zombie tak berarwah, tapi seseorang menabrakku dari belakang.
“YAAA! Bisakah sabar sedikit, pintunya memang kecil” teriakku padanya, yang ternyata adalah Jiyeon.
“uh..”
“Ji-Jiyeon-ah~”
“sudah lama ya” katanya gugup, dibelakangnya Onew memegangi pundak Jiyeon. Karena menabrakku, jiyeon hampir terjatuh.
“bisakah.. kita bicara ?” tanyaku tiba-tiba. Entahlah, aku seperti melupakan semuanya. Melupakan cakes pesanan ibuku, melupakan bahwa kami ada di pintu masuk café, sampai orang-orang hampir berteriak akan masuk maupun keluar café.
Dan disinilah kami, bangku taman kampusku. Tak ada Onew, tak ada junior-junior yang mengganggu. Hanya aku, dan Jiyeon. Kami duduk di arah yang berlawanan seperti orang asing.
“bagaimana ?” aku membuka suara.
“apanya ?”
“bisa bertemu Onew?”
“…”
“apa kau senang ?”
“…”
“pasti kau tak henti berteriak, hehe, kau pasti sangat senang sampai ingin waktu terhenti.. bukan kah kau selalu bilang.. bagaimana ? bagaimana rasanya benar-benar bertemu Onew?” tanyaku, air mataku mulai membasahi sudut-sudut mataku. Semoga Jiyeon tak melihat.
“Keren.” Katanya tersenyum melihat kearahku. Tapi aku masih menundukkan wajahku, jangan sampai Jiyeon melihat aku menangis. Its men’s pride.
“lalu?”
“dia sama seperti yang aku bayangkan.. dia benar-benar ~ wahh .. aku tak bisa berkata apa-apa lagi.. aku senang sampai bila aku mati esok aku tak akan menyesal” katanya, terdengar sangat bahagia.
“I’m happy for you” kataku sepertinya kini hatiku yang menangis.
“tapi ..”
“ya ?”
“mengapa kau tak mencariku, tak pernah mencariku, sebentarpun .. kau benar-benar jahat..” katanya. Jiyeon menangis, karena aku tak mencarinya. Entah harus bahagia karena Jiyeon benar-benar ingin aku mencarinya, atau sedih, karena Jiyeon menangis.
“bukan kah, kau yang ingin aku tak mencarimu ? ingat ? kau ingin melupakanku ?”
“oppa!! Kau benar-benar tak mengerti seorang wanita! “
“tapi…”
“aku waktu itu sedang marah, setidaknya saat semuanya mereda, saat rumor itu sudah menghilang, kau harus mencariku .. menanyaiku ..”
“rumor ?” aku memandang ke arahnya penuh kebingungan. Jarak kami tak begitu jauh.
“aishhh! Kau ini benar-benar! “ katanya kesal. Tak ada lagi air mata di wajahnya. Wajahnya sangat lucu saat kesal, seperti Jisun saja. Tapi saat Jisun kesal, ia terlihat seperti Jiyeon. Ah, mereka memang mirip.
“aku merindukan mu.” Kataku masih menatapnya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan seperti orang gugup.
“aku juga”
Dia memelukku, menundukkan wajahnya, bahkan menutup matanya. Aku membalas pelukannya. Benar-benar musim semi yang indah, aku harap aku tidak terbangun dari mimpi dan menyadari betapa kasihannya aku, karena hanya bisa memeluk Jiyeon dalam mimpi. Aku ingin, ini nyata.
✿✿✿
Saat aku membuka mataku, semuanya adalah putih. gorden itu putih, selimutku putih, bunga lili putih, dan segala benda dikamar ini putih. Sebenarnya aku berada dimana?
Dan aku menyadari mimpi itu. Mimpi indah saat aku memeluk Jiyeon, dia menangis karena aku tak mencarinya, Jiyeon yang sedang kesal dan terlihat seperti Jisun, dan.. ternyata semuanya hanya mimpi. Aku hampir tidak menangis karena rasanya aku sangat lelah sehingga otot di kelenjar mataku juga tak berfungsi, tapi aku menangis. Menangis, tersedu-sedu.
“Junhyung-ah~” suara omma memanggilku pelan. Tirai putih itu terbuka. Dan ommaku yang cantik dan baik hati menghampiriku dengan wajah khawatirnya.
“omma~ aku ada dimana ?”
“di rumah sakit”
“apa ? kenapa ? tapi ..”
Omma mulai menjelaskan semuanya. Otakku sepertinya berjalan lamban sampai omma menceritakan berkali-kali. Yang aku sadari dan aku pahami adalah, dokter bilang aku kekurangan gizi, kurang darah, darah rendah, dan segala macam penyakit lainnya. Omma benar-benar terlihat khawatir. Akhir-akhir ini aku hanya menyadari tubuhku seperti zombie.
“kau benar-benar sulit disuruh makan, kau hampir tidak tidur seharian, kau berolahraga terlalu keras, kau tak ….” Dan blablablabla omma menceritakan kesedihan yang ku alami tiga bulan ini. Benar-benar aku tak percaya, hal ini hanya karena Jiyeon!
“untung saja Jiyeon banyak membantu, ia mendonorkan darah, ia juga membawamu ke rumah sakit, kalau tidak, siapa lagi anak ibu ..” kata omma tersedu-sedu.
“eh? Maksudnya ?”
“bukankah kau bersama Jiyeon lalu ia bilang kau pingsan .. Junhyung-ah .. ingatlah nak …”
Aku mulai mengingatnya. Kejadian sore itu, saat Jiyeon menangis, itu benar-benar nyata. Dan aku ingat aku memeluknya kemudian, mungkin saja aku pingsan. Aku sangat bahagia sampai menangis. Aku memang melankolis.
✿✿✿
“kau tahu, bila darah kita bercampur.. ada banyak mistis tentang itu, bahwa mereka tidak akan dapat dipisahkan.” Kata seorang juniorku. Rambutnya diikat kebelakang, senyum lebarnya masih yang sama seperti dulu. Iya, dia Jiyeon. Hal baiknya adalah sekarang dia sudah kuliah ditempat kuliah yang sama denganku. Dan hal buruknya, dia tetap seorang fangirls untuk Onew.
“benarkah? Baiklah! Kau tak akan pernah ku lepaskan!” kataku lalu menggenggam tangannya erat.
“yaaa! Oppa! Lepaskan! Malu sekali banyak orang melihat!” katanya berteriak-teriak seperti anak kecil. Tapi genggaman tanganku sangat kuat.
“tak akan pernah ku lepaskan” kataku lagi. Gaya seorang senior kepada juniornya .”kau mengerti ?” tanyaku dengan tegas, mataku menatap tajam.
“yaa! Oppa keren!” pujian pertama kali dari Jiyeon.
“jadilah pacar oppa yang keren ini..”bisikku ke telinganya.
“baiklah, tapi satu hal ..”
Aku mengangkat alisku.
“ticket VIP Onew solo concerttttttt! “ teriaknya ala-ala fangirls labil yang merasa galau kalau sampai tidak dapat tiket itu.
“kau ini! Onew lagi!” kataku kesal.
“uh..”
“baiklah..” kataku lagi, mata Jiyeon menjadi berbinar-binar layaknya seorang fangirls labil yang mendapatkan tiket gratis dari kuis undian. “tapi cium aku ..”
“yaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Oppa mesum! Pergi sana ! hahaha”
“hahahha”
It’s the end. Aku, Junhyung, dan Jiyeon, Kekasihku. Kami akhirnya bersatu. Walaupun aku lebih sedikit membenci idolnya, Onew. Tapi aku tahu, karena Jiyeon pernah mengatakannya, kalau dia mencintaiku satu level dibawah Onew. Benar-benar, anak itu licik sekali. Lihat saja, kalau suatu hari nanti aku menjadi artis, kemudian banyak fangirls labil yang cantik datang mengejarku.. aku akan .. aku akan tetap mencintai Jiyeon, dan tidak akan pernah melepaskannya walaupun ke genggaman Onew yang levelnya satu tingkat diatasku. Aku tidak akan pernah melepaskan Jiyeon..
No comments:
Post a Comment
komen yuk ! i'll hear you roar !